Kamis, 06 Juni 2013

Prinsip Tugas Pareto Dalam Implementasi RPL

PENGUJIAN PERANGKAT LUNAK

Pengujian perangkat lunak adalah elemen kritis dari jaminan kualitas perangkat lunak dan merepresentasikan kajian pokok dari spesifikasi, desain dan pengkodean.
Sasaran pengujian perangkat lunak :

  1. Pengujian adalah proses eksekusi suatu program dengan maksud menemukan kesalahan.
  2. Test case yang baik adalah test case yang memiliki probabilitas tinggi untuk menemukan kesalahan yang belum ditemukan pernah sebelumnya.
  3. Pengujian yang sukses adalah yang mengungkap semua kesalahan yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Prinsip Pengujian :

  1. Semua pengujian harus dapat ditelusuri hingga ke persyaratan pelanggan.Sebagai tujuan utama pengujian perangkat lunak yaitu untuk mengungkap kesalahan. Yang mana berarti kesalahan paling fatal apabila perangkat lunak tidak dapat memenuhi syarat yang ditentukan oleh pelanggan.
  2. Pengujian harus direncanakan lama sebelum pengujian itu di mulai.Perencanaan pengujian dapat dimulai setelah model persyratan telah dilengkapi. Definisi detail tentang test case dapat di mulai segera setelah model desain di teguhkan. Dengan demikian pengujian dapat direncanakn dan dirancang sebelum pengkodean dilakukan.
  3. Prinsip Pareto berlaku untuk pengujian perangkat lunak.Prinsip Pareto mengimplikasikan bahwa 80% dari semua kesalahan yang ditemukan selama pengujian, hanya dapat ditelusuri 20% dari semua modul program. Hanya saja kita sulit untuk mengetahui modul yang mengalami kesalahan dan mengujinya dengan teliti
  4. Pengujian harus mulai “dari yang terkecil” dan berkembang ke pengengujian “yang besar”.Pengujian biasanya dilakukan terhadapmodul program individual. Selagi pengujian berlangsung, maka seluruh modul yang terintegrasi lebih mudah di uji.
  5. Pengujian yang mendalam tidak mungkin.Jumlah jalur permutasi pada perangkat lunak sangat besar, oleh karena itu sulit untuk melakukan pengujian terhadap semua jalur skema pengujian. Akan tetapi setidaknya kita dapat mengetahui bahwa logika yang tertuang dalam perancangan perangkat lunak itu telah tepat dan memastikan semua kondisi telah teruji.
  6. Untuk menjadi paling efektif, pengujian harus dilakukan oleh pihak ketiga yang independent.Arti dari “Paling Efektif”  adalah pengujian yang memiliki peluang tertinggi untuk menemukan kesalahan. Perekayasa perangkat lunak yang membuat system bukanlah orang yang paling tepat untuk melakukan semua pengujian bagi perangkat lunak.
PRINSIP PARETO

Prinsip pareto (The Pareto principle) juga dikenal sebagai aturan 80-20 menyatakan bahwa untuk banyak kejadian, sekitar 80% daripada efeknya disebabkan oleh 20% dari penyebabnya. Prinsip ini diajukkan oleh pemikir manajemen bisnis Joseph M. Juran, yang menamakannya berdasarkan ekonom Italia Vilfredo Pareto (15 July 1848 – 19 August 1923), yang pada 1906 mengamati bahwa 80% dari pendapatan di Italia dimiliki oleh 20% dari jumlah populasi.

Dalam implementasinya, prisip 80/20 ini dapat diterapkan untuk hampir semua hal :

  • 80% dari keluhan pelanggan muncul dari 20% dari produk atau jasa.
  • 80% dari keterlambatan jadwal timbul dari 20% dari kemungkinan penyebab penundaan.
  • 20% dari produk atau jasa mencapai 80% dari keuntungan.
  • 20% dari tenaga penjualan memproduksi 80% dari pendapatan perusahaan.
  • 20% dari cacat sistem menyebabkan 80% masalah.

Prinsip Tugas Pareto Dalam Implementasi RPL

Dalam ilmu komputer dan teori kontrol rekayasa seperti untuk konverter energi elektromekanis, prinsip Pareto dapat diterapkan untuk upaya optimasi. Sebagai contoh, Microsoft mencatat bahwa dengan menetapkan atas 20% paling melaporkan bug, 80% dari kesalahan dan crash akan dihilangkan. Prinsip Pareto berlaku untuk pengujian perangkat lunak, maksudnya dari 80% kesalahan yang ditemukan selama pengujian dapat ditelusuri sampai 20% dari semua modul program.

Dalam pengembangan perangkat lunak proses yang khas adalah bahwa pengumpulan persyaratan, persyaratan review, desain, desain review, coding, kode review, pengujian komponen, pengujian integrasi, rilis, dan pemeliharaan. Singkatnya, proyek mulai dengan satu set persyaratan, dan kemudian pergi melalui serangkaian perbaikan dimana spesifikasi asli dibandingkan dengan produk akhir untuk kelengkapan dan kebenaran dan terhadap penggunaan dunia nyata untuk perbaikan tambahan. Selama revisi, jika persyaratan dari proses pembangunan mengikuti distribusi Pareto, maka beberapa isu kunci akan menampakkan diri dan perlu ditangani pada setiap revisi baru. Persyaratan lama akan memudar, dan yang baru akan muncul dengan konteks mereka sendiri.

Praktis pengalaman memberitahu kita bahwa pada awal proyek perangkat lunak masalah tersebut mencakup isu-isu tersebut pada platform pilihan, bahasa implementasi, database model data, modus akses dan fungsi utama dari aplikasi. Seiring waktu, penyempurnaan lanjutan dapat memperkenalkan persyaratan yang membahas bagaimana aplikasi bekerja untuk kelompok tertentu pengguna, atau dalam konsep dengan aplikasi eksternal lainnya.

Pertambahan manfaat dalam open source :

Perancang sering menggunakan prinsip pareto dalam pengelolaan teknik desain dan pengembangan bahwa 80 % dari proyek mudah dibandingkan dengan yang 20 % terakhir. Lebih khusus lagi dalam proses formal prioritas persayaratan menggunakan analisis pareto, setiap persyaratan yang unik diberi peringkat sebagai persentase dari seluruh proyek. Kebutuhan individu tersebut kemudian disajikan dalam grafik batang dari yang paling signifikan. Perusahaan perangkat lunak seperti Microsoft memahami hal ini, dan desain untuk produk yang membahas 80 persen dari persyaratan, meninggalkan 20% terakhir sebagai kustomisasi oleh pengguna akhir. Sebagian besar aplikasi saat ini telah dirancang untuk mencakup beberapa bentuk penyesuaian atau diperpanjang termasuk pengaturan preferensi pengguna, bahasa scripting atau API untuk ekstensi kustom menggunakan bahasa yang lebih tradisional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar